Monthly Archives: July 2015

LEBARAN YANG BERMAKNA, LEBARAN SEBAGAI BAGIAN ZIARAH

LEBARAN YANG BERMAKNA, LEBARAN SEBAGAI BAGIAN ZIARAH

 

Untuk sebagian besar masyarakat, Lebaran adalah hari paling dinantikan dalam setahun. Bagi rakyat berpenghasilan menengah-bawah, momen ini juga digunakan untuk memiliki pakaian baru dan menyantap hidangan istimewa. Kegembiraan  yang datang setahun sekali jangan sampai berkurang karena dibayangi kekhawatiran membubungnya harga sandang dan pangan. Lebih jauh lagi, jangan sampai terjadi ekses lebih lanjut, antara lain meningkatnya angka kriminalitas dan kecelakaan di jalan raya yang akan menambah derita para pemudik. Pemerintah telah bekerja keras untuk bisa menyingkirkan gangguan-gangguan lebaran, sehingga lebaran menjadi peristiwa penting penuh makna.

LEBARAN YANG BERMAKNA, LEBARAN SEBAGAI BAGIAN ZIARAH

LEBARAN YANG BERMAKNA, LEBARAN SEBAGAI BAGIAN ZIARAH

Kita cukup diuntungkan, lebaran tahun ini berada pada bulan Juli, tidak ada cucaca ekstrim, tidak ada banjir atau gangguan-gangguan alam yang biasanya mengurangi pasokan sembako. Juga tahun ini tol Cipali sudah bisa digunakan, sehingga seharusnya para musafir itu tidak didera lagi kemacetan yang sangat menyiksa. Cerita pemudik harus nginap di jalan akibat kemacaten lalu lintas masa lebaran  semoga tidak terjadi lagi.

Dalam konteks kekinian, mudik menjadi ajang melepas rindu yang merupakan nilai-nilai primordialisme yang bersifat positif atau dalam istilah Emha Ainun Najib mudik sebagai upaya memenuhi tuntutan sukma untuk bertemu dan berakrab-akrab dengan asal-usulnya. Namun, karena tradisi mudik tahunan ini selalu identik dengan hadirnya Idul Fitri, maka maknanya tidak hanya sekadar peristiwa biologis yakni pelepasan rindu kampung halaman, melainkan juga memiliki makna spiritual yang begitu dalam.

Setelah bergelut dengan hiruk pikuk kehidupan kota yang begitu keras maka bersua  dengan keluarga, sungkem kepada orang tua, bertegur sapa dan berbagi rasa dengan tetangga menjadi sebuah kesempatan berharga untuk merestorasi spiritualitas yang terkikis seiring dengan makin ketatnya kompetisi. Maka, dalam hal ini prosesi mudik menjadi semacam transformasi spiritual untuk mewujudkan solidaritas terhadap sesama yang dibelenggu kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan di tengah peradaban modern.

Mudik barangkali identik dengan ziarah, kita melintasi waktu dan peradaban, di saat manusia merasa menjadi modern yang dibarengi dengan kehilangan rasa kemanusiaannya, maka tak ada lagi ruang kasih sayang dan emosi manusiawi yang ditebarkan bagi manusia lainnya sehingga yang muncul adalah perangai kasar yang mementingkan diri sendiri dan agresif. Dengan mudik kita disadarkan, mungkin kita cari uang lebih gampang dari sebagian besar penduduk kampung, kita mengeluarkan uang Rp 50.000 hanya untuk makan siang sederhana sendirian, padahal di kampung uang sebanyak itu bisa digunakan untuk makan sekeluarga.

Diharapkan dengan mudik kita dihadapkan dengan realita, semoga rasa kasih sayang terhadap manusia lain tetap terpelihara, demikian juga rasa  rendah hati yang memunculkan rasa solidaritas kepada sesama selalu tertanam dalam jiwa. Dengan demikian hiruk  pikuk lebaran akan memunculkan makna, makna hakiki, kita menjadi lebih tawakal dan sabar serta menghargai sesama. SELAMAT LEBARAN SAUDARA-SAUDARAKU UMAT MUSLIM, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.