Gerhana Itu Dendamnya Batara Kala Kepada Bulan Dan Matahari

Gerhana Itu Dendamnya Batara Kala Kepada Bulan Dan Matahari – Lahirnya Batara Kala Versi Jawa – Batara Guru dan Dewi Uma adalah pasangan ideal di kahyangan Jonggringslaka, mereka saling cinta dan rumah tangganya sudah menjadi suri tauladan bagi sesama dewa maupun jalma (manusia), nyaris semua yang ada di jagat pewayangan mengidam-damkan punya keluarga seperti Batara Guru-Dewi Uma. Tetapi pengarang cerita itu hebat, dibuatlah khilaf pasangan ideal ini, sehingga cerita pewayangan menjadi seru.

Suatu saat dalam petualangan keliling dunia, pasangan ini berhubungan badan di atas kendaraan resmi (berupa lembu yang bisa terbang namanya Lembu Andini). Sesampai di istana Batara Guru baru menyadari kalau tindakannya merupakan tindakan yang sangat nista, sumpah serapah keluar dan korbannya adalah Dewi Uma yang disumpahi bahwa tindakannya seperti kelakuan raksasa, seketika Dewi Uma yang sedang mengandung berubah wujud menjadi raksasa perempuan. Diusirlah Dewi Uma ke kahyangan lain yang diberi nama kahyangan Gandamayit dan Dewi Uma diberi nama baru yaitu Batari Durga. Di kahyangan Gandamayit Dewi Durga melahirkan anak laki-laki, berupa raksasa menakutkan, diberi nama Batara Kala. Dalam perkembangan selanjutnya Batara Kala ini menjadi suami Batari Durga. Khilaf berakibat Dewi Uma menjadi Raksasa, diusir dari kahyangan dan melahirkan seorang raksasa.

Diceritakan dalam seluruh hidupnya, Dewi Uma yang sudah berubah menjadi Batari Durga selalu diliputi  dendam ingin membalas kesengsaraannya, pelampiasan dendam ditujukan kepada para dewa yang ada di kahyangan dan para jalma yang ada di marcapada (bumi). Supaya tidak merusak kahyangan maka Batara Guru memberikan rambu-rambu, manusia seperti apa saja yang boleh dimakan oleh Batara Kala, rambu rambu itu adalah : anak ontang anting (anak satu-satunya), pandawa lima (5 laki-laki semua) dan kedana kedini (anaknya 2 satu laki-laki dan satu perempuan). Mungkin inilah yang mengawali adanya ruwatan atau selamatan bagi keluarga-keluarga yang memenuhi kriteria anaknya sebagai makanan Batara Kala. Selamatan biasanya dilakukan dengan cara menanggap wayang, tujuannya adalah melindungi anak-anak yang memenuhi kriteria sebagai umpan atau makanan Batara Kala (memiliki sukerta) terbebas dari ancaman Batara Kala, mungkin kalau jaman sekarang divaksinasi. Hehehe vaksinasi anti Batara Kala.

Dewi Uma - diusir ke kahyangan Gandamayit

Dewi Uma – diusir ke kahyangan Gandamayit

Batara Guru - sumber cerita Batara kala

Batara Guru – sumber cerita Batara kala

Gerhana Itu Dendamnya Batara Kala Kepada Bulan Dan Matahari

Gerhana Itu Dendamnya Batara Kala Kepada Bulan Dan Matahari

Dalam perkembangannya, rambu-rambu yang boleh dimakan oleh Batara Kala ternyata bertambah banyak, ini mungkin mengikuti perkembangan jaman bahwa keluarga sekarang rata-rata memiliki anak yang tidak sebanyak generasi pendahulunya. Keselamatan anak menjadi hal yang sangat penting dan betul-betul dijaga supaya kesialan jangan sampai menimpa anak-anak. Ada semacam ketakutan jangan-jangan Batara Kala tidak punya

Batara Chandra (bulan) memergoki Batara Kala mencuri air kehidupan

Batara Chandra (bulan) memergoki Batara Kala mencuri air kehidupan

Batara Surya-memergoki Batara Kala mencuri air kehidupan

Batara Surya-memergoki Batara Kala mencuri air kehidupan

mangsa lagi karena seluruh anak yang memenuhi kriteria sudah diruwat semua, lalu Batara Kala karena kelaparan maka orientasinya bisa kemana saja atau bisa memangsa anak-anak dengan kriteria apapun. Inilah rambu-rambu yang baru yang berkembang menjadi sangat luas dan bisa mencakup siapa saja, konon ada sekitar 60 kriteria, tetapi inilah 36 kriteria yang penting-penting saja :

  1. Ontang-Anting;  anak tunggal laki-laki atau perempuan.
  2. Uger-Uger Lawang; dua orang anak yang kedua-duanya laki-laki.
  3. Sendhang Kapit Pancuran;  3 orang anak, yang sulung dan yang bungsu laki-laki sedang anak yang ke 2 (tengah) perempuan.
  4. Pancuran Kapit Sendhang; 3 orang anak, yang sulung dan yang bungsu perempuan sedang anak yang ke 2 (tengah) laki-laki.
  5. Anak Bungkus; anak yang pada saat kelahirannya masih terbungkus oleh selaput plasenta.
  6. Anak Kembar; dua orang kembar putra atau kembar putri atau kembar dampit yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan (yang lahir pada saat bersamaan).
  7. Kembang Sepasang; dua orang anak yang kedua-duanya perempuan.
  8. Kendhana-Kendhini; dua orang anak sekandung terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan.
  9. Saramba; terdiri 4 orang anak yang semuanya laki-laki.
  10. Srimpi; terdiri 4 orang anak yang semuanya perempuan.
  11. Mancalaputra atau Pandawa; terdiri 5 orang anak yang semuanya laki-laki.
  12. Mancalaputri; terdiri 5 orang anak yang semuanya perempuan.
  13. Pipilan; 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang anak perempuan dan 1 orang anak laki-laki.
  14. Padangan; 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang laki-laki dan 1 orang anak perempuan.
  15. Julung Pujud/caplok ; anak yang lahir saat matahari terbenam.
  16. Julung Wangi/kembang ; anak yang lahir bersamaan dengan terbitnya matahari.
  17. Julung Sungsang ; anak yang lahir tepat jam 12 siang.
  18. Tiba Ungker ; anak yang lahir, kemudian meninggal.
  19. Jempina; anak yang baru berumur 7 bulan dalam kandungan sudah lahir.
  20. Tiba Sampir/kalung usus; anak yang lahir berkalung usus.
  21. Margana; anak yang lahir dalam perjalanan.
  22. Wahana; anak yang lahir di halaman atau pekarangan rumah.
  23. Siwah atau Salewah; anak yang dilahirkan dengan memiliki kulit dua macam warna, misalnya hitam dan putih.
  24. Bule; anak yang dilahirkan berkulit dan berambut putih (bule).
  25. Kresna; anak yang dilahirkan memiliki kulit hitam (cemani).
  26. Walika; anak yang dilahirkan berwujud bajang atau kerdil.
  27. Wungkuk; anak yang dilahirkan dengan punggung bengkok.
  28. Dengkak; yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung menonjol seperti punggung onta.
  29. Wujil; anak yang lahir dengan badan cebol atau pendek.
  30. Lawang Menga; anak yang dilahirkan bersamaan keluarnya Candikala yaitu ketika warna langit merah kekuning-kuningan.
  31. Made; anak yang dilahirkan oleh ibunya tanpa alas (tikar).
  32. Orang yang ketika menanak nasi, merobohkan Dandhang (tempat menanak nasi).
  33. Memecahkan Pipisan dan mematahkan Gandik (alat landasan dan batu penggiling untuk menghaluskan ramu-ramuan obat tradisional).
  34. Anak-anak yang hari weton lahirnya sama dengan saudara sekandungnya.
  35. Anak yang hari wetonnya sama dengan orangtuanya.
  36. Orang yang suka mengaku/menyerobot hak orang lain. Sering mencelakai, menyakiti hati orang lain.

Anjungan Jogjakarta Taman Mini Indonesia Indah secara rutin menyelenggarakan ruwatan dengan mendatangkan dalang-dalang senior dari Jogjakarta. Suatu saat ada hal lucu  terjadi ketika seorang Bapak memaksakan anaknya untuk ikut diruwat, padahal anaknya sama sekali tidak memenuhi syarat sebagai umpan Batara Kala, lalu petugas pendaftaran sibuk nanya kesana-kemari mencarikan istilah bagi kesukertaan anak Bapak yang memaksa ini. Inilah salah satu sebab mengapa kriteria anak yang masuk sebagai umpan Batara Kala semakin hari semakin banyak. Pada dasarnya keluarga-keluarga menghendaki keselamatan bagi anak-anaknya, tidak ingin anak-anaknya mengalami kesengsaraan yang tidak perlu.

Mungkin generasi sekarang yang berusia sekitar 40 tahun keatas masih ingat, ketika terjadi gerhana matahari. Gerhana matahari dikaitkan ceritanya sebagai upaya Batara Kala memakan bulan atau memakan matahari, suasana benar-benar mencekam karena seluruh penduduk desa diwajibkan memukul lesung atau kentongan, sebagailambang  perutnya Batara Kala. Gerhana yang ditandai kegelapan menandakan bahwa  bulan atau matahari hampir saja ditelan oleh Batara Kala, maka ketika seluruh penduduk bumi memukul- mukul perut Batara Kala menjadi mules atau mual, kemudian bulan atau matahari yang hampir tertelan dimuntahkannya kembali. Selamatlah matahari dan bulan.

Mengapa Batara Kala selalu berusaha menelan bulan dan matahari dalam berbagai kesempatan? Suatu saat kahyangan digegerkan dengan berita hilangnya , Batara Guru kehilangan satu guci berisi air kehidupan atau Tirta Amertasari (siapapun yang meminum air ini maka hidupnya akan langgeng), ternyata pencurian ini dilakukan oleh Batara Kala dan diketahui oleh Batara Surya dan Batara Chandra, kemudian keduanya melaporkan perihal tindakan pencurian ini kepada Batara Wisnu. Batara Wisnu marah luar biasa dan mengambil senjata pamungkas (senjata chakra), ketika Batara Kala sedang meminum Tirta Amertasari yang masih nyangkut di tenggorokan maka ditebasnya leher Batara Kala. Kepala melayang-layang hidup terus dan selalu menebar ancaman sedangkan badannya jatuh ke bumi berubah menjadi lesung atau kentongan yang rata-rata dimiliki oleh para jalma. Matahari adalah lambangnya Batara Surya, dan bulan identik dengan Batara Chandra, dendam Batara Kala abadi kepada kedua dewa yang memergokinya mencuri air kehidupan. Maka sampai kapanpun kepala Batara Kala yang melayang-layang itu selalu menebar ancaman  berusaha menelan bulan atau matahari.

Matahari saja mau ditelan sama Batara Kala

Matahari saja mau ditelan sama Batara Kala

Dongeng ini sungguh luar biasa karena sudah berlangsung ratusan tahun, tetapi kita sebagai manusia selalu senang mendengarkan kembali ceritanya. Pengarangnya sungguh hebat.

Kumpul Komunitas banner 300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *