Surat Terbuka Anggun, Dibalas Dengan Anggun Oleh Istri Pemakai Narkoba

Surat Terbuka Anggun, Dibalas Dengan Anggun Oleh Istri Pemakai Narkoba – Beberapa hari yang lalu Anggun C. Sasmi mengirim surat kepada Presiden Jokowi, inti surat adalah keberatan atas rencana eksekusi mati terhadap para terpidana mati kasus narkoba. Surat terbuka itu ditanggapi oleh seorang Ibu, istri dari seorang pemakai narkoba, Ibu itu dengan anggun menceritakan penderitaannya  menjadi seorang istri seorang pemakai narkoba. Berikut surat terbuka itu yang dikutipMetrotvnews.com :

Surat Terbuka Anggun, Dibalas Dengan Anggun Oleh Istri Pemakai Narkoba

Surat Terbuka Anggun, Dibalas Dengan Anggun Oleh Istri Pemakai Narkoba

Surat terbuka untuk mbak Anggun C Sasmi (penulis surat untuk kebebasan gembong narkoba Prancis).

Saya hanyalah ibu rumah tangga biasa, mbak. Yang hanya menyimak berita di layar kaca dan layar hp saya. Sampai pada hari ini, anak saya mengomentari keikutsertaan mbak mendemo pemerintah Indonesia yang memutuskan hukuman mati warga negara Prancis yang menjadi pengedar narkoba di Indonesia. Anak saya berkata, “Orang salah kok dibela?”, ini yang membuat saya pilu.

Oleh sebab itu, saya menulis surat terbuka ini untuk mbak renungkan. Apakah mbak tahu apa saja akibat buruk narkoba? Saya rasa sebagai wanita cerdas yang sudah melanglang buana pasti mbak tahu akan hal itu. Tapi apakah mbak tahu akibatnya bagi orang-orang terdekat yang mencintai orang-orang yang terlibat dengan narkoba? Saya rasa mbak tak memahami hal itu.

Saya adalah mantan istri dari seorang pecandu narkoba. Saya seorang ibu dari dua anak. Apakah mbak tahu rasanya saat menangis memohon kepada suami mbak untuk berhenti mengonsumsi narkoba? Saya ketakutan mbak! Anak saya masih kecil waktu itu, 5,5 tahun dan bayi 4 bulan.

Apakah mbak tahu rasanya saat saya dicemooh orang saat suami yang seorang aparat negara dijebloskan ke sel tahanan karena kasus narkoba dan kehilangan pekerjaan selama 15 tahun dijalaninya? Saya rasa mbak tidak tahu.

Apakah mbak tahu rasanya setiap hari besuk ke penjara atau menghadiri persidangan yang menguras emosi dengan menggandeng balita dan menggendong bayi di tengah tatapan iba, dan bahkan mengejek orang-orang sekitar? Saya rasa mbak tidak tahu itu.

Apakah mbak pernah menghitung berapa biaya yang saya habiskan setiap hari untuk membeli 4 pak rokok untuk para petugas dan napi jaga saat saya membesuk suami? Apa mbak bisa menghitung berapa biaya mengirim makanan dan uang transportasi ke penjara setiap hari bagi masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah seperti kami?

Apa mbak tahu sedihnya saya saat bayi saya terkena tifus di rumah sakit, sementara suami saya di penjara? Apa mbak tahu berapa biaya rumah sakit yang saya keluarkan setiap kali suami OD (over dosis)? Apa mbak tahu rasanya dijauhi sanak famili karena saya mempertahankan suami saya?

Apa mbak tahu perasaan anak-anak saya saat mereka melihat suami menghajar saya di depan mereka? Apa mbak tahu rasanya saat suami memandang istrinya bagai musuh dan selalu mengancam membunuh?

Apa mbak tahu rasanya kehilangan rumah, kendaraan, properti yang saya tabung dari kerja keras, bahkan sejak sebelum saya menikah? Apakah mbak tahu rasanya saat suami berpesta pora narkoba sana sini tanpa peduli tak ada makanan untuk anak istrinya di rumah?

Apakah mbak tahu rasanya dicurigai dan dituduh setiap hari oleh suami yang paranoid? Apakah mbak tahu rasanya diselingkuhi berkali-kali hanya karena mengejar kepuasan memakai narkoba?

Apa mbak tahu rasanya saat anak menggigil ketakutan dalam pelukan saya? Apa mbak tahu rasanya mendengar anak saya bercerita dengan detail bagaimana suami saya menyiapkan peralatan untuk memakai narkoba?

Itu mimpi buruk di kehidupan saya, mbak! Itu hanya contoh- contoh kecil, mbak. Itu bukan skenario sinetron di layar kaca. Bukan juga cuma satu atau dua hari saja. Tapi saya mencoba bersabar dalam tujuh tahun!

Bahkan dengan keadaan seperti itu saya masih bersyukur karena masih bisa mempertahankan kewarasan saya dan melindungi anak-anak saya. Saya masih bersyukur karena bisa menutup mata, menulikan telinga, dan membungkam mulut demi anak-anak saya. Saya bersyukur masih bisa mengusap air mata dan mulai bekerja lagi. Butuh bertahun-tahun bagi saya untuk merehabilitasi mental dan moral saya dan anak-anak saya.

Janganlah mbak berpikir saya adalah orang yang kolot dan tak tahu perkembangan dunia. Saya tahu itu. Di Bali sudah terlalu sering saya melihat klien-klien saya berpesta apapun, di sebuah pulau di Indonesia dan di Amsterdam saya melihat muda- mudi menghisap ganja di tempat umum. Saya tahu itu.

Tapi hal itu bukan menjadi hal yang membuat saya akan menerima dan memakluminya. Saya muak melihat Freddy si gembong narkoba berbicara dengan santainya dan menjelaskan bahwa dia masih menjalankan bisnis narkoba dari balik tembok penjara. Saya muak mendengar bahwa para sipir terlibat dalam hal ini.

Dan terlebih lagi, saya muak membaca surat mbak kepada Presiden Indonesia untuk menentang hukuman mati kepada warga negara Prancis itu, Serge Atlaoui, dan bahkan mbak menyebut dia tulus dan jujur. Apa maksud mbak sebenarnya?

Dan sekarang, saya lebih muak lagi melihat mbak berdemo bersama mereka. Bahkan menyebut kami kuno. Tapi bagi saya, modernisasi bukanlah seperti yang mbak pikir. Mbak memang hebat, punya prestasi luar biasa sebagai artis internasional.

Dulu, saya sangat bangga memandang mbak di layar televisi, seorang wanita dari Indonesia yang bisa ke luar negeri, bisa berbahasa Inggris dan Prancis dengan fasih, dan menghasilkan album lagu dengan suara merdu mbak.

Saat mbak memutuskan menjadi warga negara Prancis, saya mencoba mengerti. Tapi yang saya tidak mengerti, untuk apa mbak menyurati presiden kami dengan sepenggal bahasa jawa dengan permintaan seperti itu?

Sekali saja pemerintah kami membatalkan hukuman mati itu, tak akan ada lagi negara lain yang menghormati hukum di negara kami. Jangan masuk dengan narkoba ke negara kami kalau masih takut mati.

Sudahlah mbak, mbak sudah warga negara asing sekarang, sudah kehilangan nasionalisme dengan menentang UU negara kami. Silakan mbak berkoar-koar di negara mbak. Biarkan kami melindungi negara kami. Melindungi anak cucu kami. Mungkin saat mbak mempunyai anak nanti, barulah mbak bisa menyadari ketakutan kami.

Bagi saya, hukuman mati untuk dia akan menyelamatkan hidup banyak orang. Salam dari Indonesia, yang dulunya negara mbak.

:”Daripada anak terjerumus  narkoba, lebih baik mati saja”. Demikian ungkapan seorang Ibu menggambarkan penderitaannya karena anaknya terjerumus narkoba, harta benda yang dikumpulkan sekian lama habis untuk berbagai “penebusan”.

Kita memang sangat pedih mendengar berita, bahwa setiap hari 50 anak dan remaja kita meregang nyawa karena terjerumus ke jurang narkoba. Para pengedar narkoba itu punya andil yang sangat besar dalam menjerumuskan anak dan remaja kita ke jurang narkoba, pada awalnya diberi gratis untuk sampai ketagihan. Kalau sudah ketagihan maka para pengedar itu bagai memiliki ATM, sedangkan keluarganya sudah pasti sengsara.

Kumpul Komunitas banner 300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *