Tag Archives: GAHARU

Gaharu, Baunya Mulai Mengganggu Para Pemburu

Gaharu, Baunya Mulai Mengganggu Para Pemburu – Sudah gaharu cendana pula, wanginya sempurna maksudnya.Gaharu adalah sejenis pohon yang menghasilkan zat antibodi baunya wangi menggoda. Antibodi atau zat pertahanan tubuh itu dikeluarkan pohon untuk menangkal jamur atau penyakit yang masuk, kini masuknya penyakit itu disengaja oleh manusia, dinamakan inokulasi. Gaharu, Baunya Mulai Mengganggu Para Pemburu.

Gaharu, Baunya Mulai Mengganggu Para Pemburu

Gaharu jenis Grinop lebih mudah tumbuh di Pulau Jawa

Tulisan tentang gaharu belum juga bertambah, kegunaan gaharu tetap saja sebagai bahan pewangi atau bahan untuk upacara keagamaan. Tetapi kalau kita lihat di internet, nagara jiran Malaysia nampak lebih maju dalam halpergaharuan, mungkin karena pemerintahnya sudah sempat ikut melakukan pembinaan petani. Pemerintah di sini boro-boro, masih ngurus konflik KPK_Polri dan pembubaran PSSI saja belum kunjung selesai.

Hebatnya gaharu adalah murni bersahabat dengan alam, para penggila harus menanam gaharu, minimal 5 tahun baru bisa dimasukkan bibit penyakit ke batang gaharu. Setelah usia 5 tahun ketika pohon sudah sebesar kaki orang dewasa maka permainan dimulai, inokulan digelontorkan, harapannya pohon gaharu segera menghasilkan antibodi yang umumnya kita sebut gubal. Konon gubal alam harganya sampai ratusan juta per kilogramnya, namun gubal alam mungkin sudah tidak ada lagi di hutan, manusia harus mengupayakan menanam pohon gaharu untuk meniru hutan menghasilkan gubal.

Gaharu tidak mengkhawatirkan seperti akik yang cenderung merusak alam karena bongkah-bongkah batu itu ada di perut bumi, gaharu justru mengajari manusia untuk lebih sayang alam, dan gaharu sangat .tahu diri dengan rela mati berkorban demi kesejahteraan umat manusia. Gaharu, Baunya Mulai Mengganggu Para Pemburu.

Gaharu Akan Booming Setelah Batu Akik

Gaharu, adalah sejenis tanaman yang menghasilkan wewangian kelas satu yang awalnya diketemukan di hutan-hutan liar di Kalimantan, Sumatra dan Papua serta pulau-pulau lainnya. Anehnya wewangian itu muncul karena pohon gaharu ini mengeluarkan zat pertahanan diri karena tubuhnya diserang jamur. Mulanya pohon gaharu yang terluka lama-kelamaan akan mengeluarkan wewangian, luka itu bisa terjadi karena gesekan antar pohon, kena parang atau golok petani, disambar petir atau kena peluru nyasar. Atas luka tersebut biasanya dipakai sebagai pintu masuk oleh berbagai jamur untuk menginveksi tubuh pohon gaharu.

Gubal Gaharu-Harganya Bisa Ratusan Juta Per Kilogramnya Semahal batu Akik

Gubal Gaharu-Harganya Bisa Ratusan Juta Per Kilogramnya Semahal batu Akik

Manusia dengan kecerdikannya mempelajari fenomena alam ini kemudian mencobanya untuk memasukkan bibit-bibit penyakit yang rata-rata berupa bibit jamur ke dalam tubuh pohon gaharu. Nasi busuk, kotoran hewan, kotoran manusia diujicobakan untuk dimasukkan ke dalam batang gaharu. Inilah yang disebut inokulasi atau memasukkan bibit penyakit ke dalam batang gaharu dengan harapan batang gaharu melawan bibit penyakit yang masuk dengan mengeluarkan zat antibodi. Zat inilah yang sangat diharapkan manusia karena gaharu mengeluarkan wewangian kelas satu dengan harga yang menggiurkan.

Gaharu Sengaja Disakiti Denag Inokulasi Atau Memasukkan Bibit Penyakit Ke Dalam batang Pohon

Gaharu Sengaja Disakiti Dengan Inokulasi Atau Memasukkan Bibit Penyakit Ke Dalam batang Pohon

Gaharupada saatnya akan mengalami booming setelah anturium kemudian sekarang digantikan oleh batu-batu akik atau batu giok. Gaharu memerlukan proses penanaman yang akan membantu penghijauan alam, sedangkan batu akik sagat berpotensi akan mesusak alam. Sekarang ini perut bumi pasti akan diaduk-aduk demi sebongkah batu yang diharapkan akan merubah nasib.

GAHARU MALAYSIA JAUH MENINGGALKAN KITA

GAHARU MALAYSIA JAUH MENINGGALKAN KITA

Gaharu adalah tanaman penghasil wewangian yang dihasilkan dari system pertahanan tubuh untuk mengusir benda asing dari tubuh pohon. Di hutan Kalimantan atau Papua mulanya antar pohon yang beraneka ragam itu saling menghimpit untuk mendapatkan udara bebas. Ketika dari saling himpit itulah ada salah satu pohon terluka, luka pohon gaharu itulah yang menjadi berkah manusia, karena luka itu berusaha disembuhkan sendiri oleh si pohon dengan mengeluarkan zat pertahanan tubuh pohon. Pertarungan zat pertahanan tubuh melawan benda asing menimbulkan perubahan warna batang pohon menjadi coklat, lama-kelamaan menjadi hitam dan mengeras. Batang pohon yang sudah berubah warna inilah yang dicari manusia untuk bahan wewangian.

 

Negara Malaysia jauh lebih maju dibanding Indonesia dalam mengupayakan atau membudidayakan gaharu. Gaharu ditanam dimana-mana, penelitian dilakukan dimana-mana. Inovasi-inovasi baru dalam hal inokulasi sangatlah maju. Semoga bangsa kita menyadarinya.

GAHARU RELA MATI DEMI KESEJAHTERAAN MANUSIA

GAHARU RELA MATI DEMI KESEJAHTERAAN MANUSIA

GAHARUMATI

GAHARUMATI

Seperti kita ketahui bersama bahwa pohon gaharu harus diberi zat siksa supaya mau menghasilkan gubal, factor keserakahan manusia yang manusiawi muncul di sini. Manusia ingin hasil yang sebanyak-banyaknya. Maka dijejalkannya zat siksa sebanyak-banyaknya pula supaya pohon gaharu menghasilkan gubal segera. Pemberian zat siksa yang berlebihan menimbulkan rasa ketidakadilan, seharusnya manusia bekerja sama erat dengan pohon ini. Pohon tetap menghasilkan gubal gaharu tetapi tetap hidup adalah sesuatu yang ideal, tetapi sesuatu yang ideal itu jarang terjadi atau mustahil.

Manusia dengan kejam menggelontorkan sat siksa yang kita kenal dengan nama inokulan, pemberian zat siksa popular dinamakan inokulasi. Pohon gaharu sudah persis menjadi ayam potong, menetas, hidup kemudian “dibunuh”. Pembunuhan gaharu dilakukan pelan-pelan karena zat siksa itu harus bekerja supaya pohon gaharu tersiksa tetapi tidak mati. Ini bedanya dengan ayam potong yang mati seketika setelah dipotong. Pohon gaharu harus menderita selama bertahun-tahun untuk melawan penyakit yang sengaja dimasukkan oleh manusia, semakin keras penderitaannya dan bertahan hidup maka manusia semakin senang.

Zat siksa itu harus dilawan, perlawanan membuahkan perubahan warna dan kontur batang, lokasi-lokasi tempat perlawanan tu sebenarnya mati pelan-pelan karena serat-serat kayu itu berubah menjadi zat hitam yang dinamai gubal. Sari-sari akanan tidak bisa lewat lagi. Pohon gaharu rela mati demi kesejahteraan manusia.

GAHARU RELA DICOBA DEMI KESEJAHTERAAN MANUSIA

GAHARU RELA DICOBA DEMI KESEJAHTERAAN MANUSIA

GAHARU DICOBA

GAHARU DICOBA

Setelah melalui berbagai rangkaian percobaan yang tidak mengenal lelah dan sampai satu kesimpulan bahwa gaharu harus disiksa untuk memaksanya mengeluarkan zat sakti. Pertanyaan berikut adalah jenis apa zat yang “disukai” oleh pohon gaharu. Setelah ketemu zat yang disukaipun muncul persoalan baru, berapa dosis yang pas dan “disukai” . Pemasukan “zat siksa” ini semacam vaksinasi yang dialami oleh tubuh manusia, ukuran vaksin harus pas. Over dosis zat siksa akan menyebabkan pohon gaharu mati sebelum sempat menghasilkan gubal, sebaliknya zat siksa yang kurang akan dianggap enteng oleh pohon gaharu sehingga tanpa perlu mengeluarkan gubal sakti untuk melawannya.

Ukuran dosis yang pas ini juga menimbulkan banyak korban, dapat kita bayangkan, pohon yang siap disiksa minimal berusia 5 tahun, jika dosis tidak tepat maka sia-sialah manusia yang sudah menunggu selama 5 tahun. Perlu diketahui bahwa pohon gaharu ini memang karunia yang luar biasa, pohon ini sangat tahan dari berbagai macam penyakit bahkan kekeringan sekalipun. Oleh karenanya meskipun over dosis jika overnya masih dalam batas tertentu maka pohon gaharu akan menahannya. Lain halnya jika over dosisnya sudah keterlaluan maka pohon gaharupun akan angkat tangan dan menyerah kalah. Zat perlawanan sudah dikerahkan semuanya tetapi yang dilawan kelewat banyak sehingga tidak mampu, yah gaharu menjadi pohon yang selalu dicoba dan dicoba.

GAHARU RELA DISIKSA DEMI KESEJAHTERAAN MANUSIA

GAHARU RELA DISIKSA DEMI KESEJAHTERAAN MANUSIA

GAHARU DISIKSA

GAHARU DISIKSA

Untuk dapat menghasilkan gubal dambaan manusia, pohon gaharu menjadi kelinci percobaan yang tidak pernah berontak. Zat asing apa saja dimasukkan ke batang pohon gaharu. Olie bekas, air accu, makanan busuk, dan zat-zat kimia lainnya digelontorkan oleh manusia ke batang pohon. Jejamuranpun, artinya jamur apa saja dioleskan atau dijejalkan ke batang yang sudah dilukai terlebih dulu. Enceng gondok yang mati keserang jamur diyakini sebagai bibit gubal yang jitu. Sari buah yang membusuk juga diyakini sebagai bibit gubal ajaib. Sampai-sampai seseorang tidak tahu lagi, zat apa yang bisa menjadi bibit gubal gaharu karena begitu banyaknya percobaan sementara pohon yang dipakai untuk uji coba hanya itu-itu saja.

Sementara pohon gaharu di alam semakin cepat punah, percobaan belum berhasil, permintaan akan gubal semakin meningkat, akibatnya harga gubal gaharu semakin tidak terkendali. Semangat para peneliti gubal semakin menjadi-jadi, penelitian ilmiah dilakukan oleh instansi-instansi baik yang resmi didirikan oleh pemerintah maupun instansi-instansi yang berorientasi bisnis semata.

Kesimpulan dari berbagai penelitian adalah hanya satu : pohon gaharu harus disiksa supaya mau mengeluarkan zat sakti berupa resin yang kita kenal dengan gubal. Siksaan itu berupa usaha memasukkan penyakit berupa jamur fusarium ke dalam batang pohon gaharu, setelahnya manusia tinggal senyum-senyum menunggu munculnya gubal.

GAHARU RELA DISAKITI DEMI KESEJAHTERAAN MANUSIA

GAHARU RELA DISAKITI DEMI KESEJAHTERAAN MANUSIA

POHON DISAKITI

POHON DISAKITI

Munculnya gubal gaharu karena peristiwa alam akibat luka gesekan antar pohon gaharu atau dengan pohon lainnya di alam liar tidaklah memuaskan manusia. Bayangkan pohon yang sangat besar hanya menghasilkan gaharu segenggam tangan. Hal ini wajar terjadi karena gubal hanya muncul atau terjadi pada luka-luka yang terjadi secara tidak sengaja, dan luka-luka itu sangat tidak membahayakan sehingga pertahanan tubuh pohonpun hanya ala kadarnya. Bisa juga terjadi gesekan antar pohon itu tidak membawa penyakit masuk alias luka biasa.

Mulailah manusia dengan berbagai percobaan, segala macam usaha dilakukan untuk menirukan alam melukai pohon gaharu. Inti usaha adalah melukai pohon gaharu dengan memasukkan benda-benda asing ke dalam pohon, benda itu bisa berupa logam, sejenis kayu yang diyakini sebagai bibit gubal, stick bambu dan benda-benda lainnya. Boleh dikatakan bahwa pohon gaharau harus disakiti supaya mau mengeluarkan zat saktinya berupa gubal gaharu. Usaha semacam ini tingkat keberhasilannya sangatlah rendah. Tidak sedikit pohon gaharu yang mati sia-sia tanpa menghasilkan gubal sedikitpun.

Tetapi manusia tidak patah semangat, usaha penelitian dengan menirukan fenomena alam terus dilakukan, generasi satu berganti generasi berikutnya. Sampai suatu kesimpulan bahwa pohon gaharu memerlukan zat asing yang harus dimasukkan ke dalam batangnya, kemudian pohon itu memproduksi zat perlawanan.